RAMADHAN DAN SEJUTA KENANGAN, SEMOGA TETAP MENJADI PRIBADI YANG BERIMAN (?)




 (pict : google)
 
Masih terngiang ditelevisi, media sosial dan radio ramai dengan iklan berbagai merk minuman, seperti halnya minuman pemanis cap *mbah Marijan & es kapal melow serta aneka kue khas bulan Ramadhan yang merajalela, diikuti lantunan musik-musik religi  turut memeriahkan yang menandakan bahwa bulan Ramadhan telah tiba, seperti halnya lagu Deen Assalam cover punya Mbak Sabyan yang berdendang mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi hingga dijadikan sebagai ringtone alarm, dan bahkan sekelas musisi dangdut tanah air pun turut memeriahkan moment Ramadhan dengan lantunan musik religi terbarunya yang berjudul “Sempurnakan Langkahku” punya mbak via. Hal tersebut merupakan cuplikan yang menunjukkan betapa bahagianya masyarakat muslim tanah air menyambut bulan yang penuh berkah, bulan Ramadhan.

Ya, itulah Ramadhan, setiap lisan mengucap syukur dan setiap hati berdegup kencang merasakan bahagia, seperti seorang yang dirindu lama tak kunjung berjumpa. Bagaimana tidak demikian, karena di bulan Ramadhan lah semua amalan dilipatgandakan dan semua kesalahan dimaafkan serta akan dibukanya pintu-pintu Surga. Seperti sabda Rasul :

Jika tiba bulan Ramadhan, maka dibuka pintu-pintu syurga dan ditutup pintu-pintu neraka dan dibelenggu semua syaitan (H.R. Bukhari dan Muslim)”.

Tapi sekarang kita sudah mulai LDRan lagi sama bulan Ramadhan, entah besok akan bertemu lagi atau tidak. Disetiap pertemuan pasti ada perpisahan, kini tidak lagi mendengar anak kecil pukul-pukul jerigen teriak-teriak sahur, tidak lagi mendengar suara bapak-bapak di masjid mengumandangkan imsak dan tidak ada lagi warteg bertirai. Perpisahan itu pasti akan terjadi, seperti kata kata salah satu Grup Band Indie Endank Soekamti yang melantunkan “Awal kan berakhir, datang akan pergi, pasang akan surut, bertemu akan berpisah” – sampai jumpa. Bukan menjadi masalah kalau Ramadhan telah pergi meninggalkan kita, mau tidak mau semua itu adalah kenyataan. Tapi yang menjadi masalah adalah kepergian Ramadhan seakan berbanding lurus dengan menurunnya semangat juang, spiritualisme dan ketaqwaan kita sebagai umat Muslim. Mulai dari bangun tidur lebih lambat dari ayam berkokok, seringkali menunda-nunda sholat, marah-marah, mengumbar hawa nafsu dan lain-lain. Karena memang pada faktanya demikian, seperti halnya yang disampaikan oleh Masdar Farid Mas’udi Wakil Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMII) di repubilka.com (10/7) bahwa dengan berakhirnya bulan Ramadhan, jumlah jamaah masjid, surau maupun mushala akan berkurang, dan perbedaan tersebut sudah lazim terjadi[1]. Beliau mengatakan salah satu penyebabnya adalah ramainya masjid saat Ramadhan dikarenakan bulan tersebut memang dimuliakan Allah SWT untuk menjadi bulan ibadah sehingga banyak orang yang bersemangat tinggi untuk melaksanakan shalat taraweh, shalat lima waktu hingga tadarusan di masjid. Tidak hanya itu tapi sistem kantor juga menyesuaikan aktivitas bulan Ramadhan seperti sistem kantor yang dengan jam kerja pulang lebih awal sehingga mempunyai banyak waktu untuk beribadah di Masjid. Fenomena diatas merupakan salah satu dari sekian aktivitas ibadah yang kebanyakan secara kualitas maupun kuantitas semakin menurun. Entahlah, apapun itu alasannya tidak benar jika setelah Ramadhan justru menjadi pribadi yang malas dan tidak lebih baik dari sebelumnya. Tentunya kita tidak mau menjadi penerus orang-orang yang malas, meskipun karir kedepan nantinya akan menjadi Budayawan, tapi ingat ! jangan pernah sekalipun melestarikan budaya malas (Popon, SUCI 8)

Jika melihat fakta demikian, bulan Ramadhan disamping memang bulan yang spesial juga membawa dampak menjadikan lingkungan mengondisikan masyarakat muslim menjadi lebih relijius, begitu pula sebaliknya kepergian bulan Ramadhan turut serta membawa pergi dari kondisi lingkungan yang relijius. Hal ini seperti diungkapkan oleh Fathul Lubabin Nuqul dalam jurnalnya dengan judul “Pengaruh Lingkungan Terhadap Perilaku Manusia : Studi Terhadap Perilaku Penonton Bioskop” menyimpulkan bahwa lingkungan yang bersifat fisik maupun non-fisik (sosial) akan berpengaruh terhadap fisik dan psikis manusia yang nantinya juga akan berpengaruh terhadap perilaku baik secara individu maupun sosial. Terlepas dari objek yang diteliti adalah penonton bioskop namun secara prinsip dapat diambil kesimpulan bahwa suatu lingkungan akan berpengaruh terhadap fisik dan juga psikis baik individu maupun kelompok[2]. Ketika Ramadhan banyak melihat orang beribadah dan mendengar ceramah maka ikutlah orang yang selainnya untuk beribadah, begitu Ramadhan selesai intensitas ajakan untuk beribadah cenderung berkurang maka kecenderungan akan berkurang juga tingkat kesadaran untuk beribadah bagi tiap individu dan masyarakat.

Dari sekilas penjelasan diatas, begitu banyak amalan yang telah kita lakukan di Bulan ramadhan dan telah menjadikan kita menjadi pribadi yang lebih baik. Maka dari itu, setelah kepergian bulan Ramadhan jangan menjadi pribadi kufur iman. Justru jadikan semangat di bulan Ramadhan menjadi bahan bakar selama 11 bulan berikutnya. Jangan jadikan Ramadhan hanya menjadi pelabuhan imanmu saja, yang kau datang lalu pergi tinggalkan.

“Demi masa”
“Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian”
“Kecuali orang yang beriman dan orang-orang yang yang mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat dan menasehati supaya menetapi kesabaran”
(Q.S. Al Asyr : 1-3)


Wassalam

Inspired by : “Perantau di Negeri Gajah”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menjaga Komitmen Berhijrah

Celoteh Anak Rantau