Celoteh Anak Rantau


pict : google


Disuatu malam yang bukan siang, seorang pemuda tampak lesu, murung, gundah gulana, duduk dipojokan warung kopi langganannya. Sedikit demi sedikit diseruputnya secangkir kopi yang sudah mulai dingin. Tatapannya kosong sambil melihat langit-langit entah kemana pikirannya. Hilang.

Tingkahnya tak luput dari pandangan pramusaji, nampaknya rasa empati muncul darinya. Diantarkannya pesanan pelanggan lain lalu kemudian duduk menghampiri pemuda tadi. Perbincangan pun dimulai

“ada apa, kisanak ?” tanya nya dengan gaya slengekan mencoba menghibur.
“duduk” jawabnya jutek, jual mahal. Padahal laki.
“hmm, kalau itu saya juga tau, Bambang !”
“kok tau nama saya mas ?” terkejut, terheran-heran.
“sudahlah, ada apa ? barangkali saya bisa bantu, tampaknya kamu sedang sedih, sahabat” mencoba untuk membuka pembicaraan.
“iya ini mas, banyak pikiran, tapi sebelum itu ...”
“tapi kenapa, bang ? (panggilan untuk Bambang)” timpal pramusaji.
“tapi mending masnya duduk dulu biar enak ngobrolnya”
“oh iya kamu bener juga (kemudian Andi duduk)” dia tidak sadar, rasa empatinya ternyata melupakan dirinya untuk duduk terlebih dahulu sebelum berbincang.

Bambang bercerita bahwa dirinya merasa sudah tidak sanggup lagi untuk melanjutkan pendidikannya, bukan karena biaya sekolah yang tinggi –karena memang dari keluarga mampu- namun memang karena fisik dan batinnya sudah tidak kuat. Bagaimana tidak, harus mengerjakan ini itu, penelitian, wawancara, research lapangan, jurnal, skripsi, laporan praktikum, bahkan bisa tidur ideal adalah suatu mukjizat baginya. Berkeluh kesah sejadinya, Bambang menilai dirinya sudah tidak layak lagi.

Andi memperhatikan dengan seksama cerita Bambang.

“Sudah begitu, teman yang lain banyak yang sudah selesai. Lihat saja, si Doni, temanku yang kerjanya main Pabji tiap malam saja sudah rampung segala urusannya. Berasa sia-sia kerja keras selama ini” umpatnya dihadapan Andi. Nampaknya rasa kesalnya berujung membicarakan sahabat karibnya, mencari kambing hitam untuk pelarian akan ketidakmampuan dirinya.

Lengang sejenak, Andi mencoba untuk merangkai kembali celotehan pelanggannya dan menyimpulkan.

“jadi, kamu tidak tahan dengan tekanan seperti itu ?”, Andi yang sudah berumur 30 tahunan juga merasakan bagaimana dinamika perkuliahan kala itu.
“iya, benar”

Selang beberapa menit, Andi menceritakan kisah yang didapat dari kakek buyutnya sewaktu masih kecil dulu. Begini kisahnya,

Pada jaman dahulu, hiduplah seekor kura-kura dengan cangkang beratnya.

“kisah kura-kura dan kelinci itu kan ? udah basi itu”, potong Bambang.

Andi hanya tersenyum, melanjutkan kembali. Memang ada tokoh kelinci, tapi bukan cerita yang seperti biasa. Tiap kali dia pergi mencari makan, terlihat betapa gembiara dan bebasnya binatang lain. Entah itu kelinci, burung, kancil, kambing jantan, ataupun marmut yang berwarna merah jambu dengan gesitnya berlarian kesana-kemari dan tertawa. Ingin dia beban yang berat, keras, membuatnya terkekang dan tidak bebas terlepas.

Namun apakah kau tau apa jadinya jika kura-kura melepas cangkangnya, bukan ?

Tentu saja, banyak predator, seperti buaya air ataupun darat dengan mudah akan memangsanya, macan pun dengan sigapnya akan menelannya dengan sekali teguk. Pada poin inilah, yang sekiranya dirasakan berat, tertekan dengan segala ketidaknyamanan justru akan membuat seekor kura-kura dapat hidup hingga lebih dari 100 tahun lamanya. Dan belum tentu juga, yang terlihat bebas, tanpa beban, hedon kesana-kemari baik baginya. Jadi saranku, Bambang. Apa yang kamu rasakan saat ini nikmatilah. Suatu saat justru kamu akan menyesal, menyesal mengapa tidak menahan saja proses itu. Sedikit sabar saja.

Mendengar Andi bercerita begitu, raut wajahnya kembali sumringah, berseri. Seperti mahasiswa semester awal yang penuh idealisme.

“terima kasih mas, sekarang saya sadar”, berdiri dari tempat duduknya, memberi tip ke Andi dan beranjak untuk pergi.
Bersalaman. “sekarang saya jadi sadar mas”
“sadar akan pentingnya proses pendidikan ?”
“e a-anu, saya sadar kalau kura-kura saya belum saya kasih makan,hehee”, nyelonong begitu saja menginggalkan Andi beserta gelas kopinya.

Andi hanya tertawa. Dia tahu kalau Bambang berbohong, bahwa Bambang termotivasi dengan kisahnya. Dan juga, Andi tahu, mana boleh pelihara kura-kura di asramanya.


".... Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui"
(Q.S Al-Baqaarah : 216)






Penulis : raaden_mas/hafidz

Komentar

  1. Lah ngakak masa buaya darat mau mangsa kura-kura juga? πŸ™„
    Tapi pesan moralnya nampol pak, mantap kisanak! πŸ‘

    BalasHapus
  2. Wkwkk, terima kasih nyai atas kunjungannya. Semoga bisa terus berbuat kebaikan, meski satu atau dua kata

    BalasHapus
  3. AamiinπŸ™
    Tapi btw jan panggil nyai lah pak itu rada gimana ya artinya kalo di Sunda πŸ˜…

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwk maapkeun πŸ˜‚πŸ™
      Ditunggu lagi tulisannya teh hehe

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menjaga Komitmen Berhijrah