Menjaga Komitmen Berhijrah
(pict: pixbay)
Sudah tidak asing lagi bagi kita dan bahkan seringkali kita mendengar kata Hijrah, baik di sosial media, televisi atau bahkan
ajakan teman. Sebagaimana kita tahu bahwa makna Hijrah secara historis yaitu hijrahnya
Rasul dari Makkah ke Madinah ataupun Hijrah yang berarti merubah perilaku buruk
menjadi perilaku lebih baik, dari perilaku yang membawa kemudhorotan menjadi
perilaku yang membawa kemaslahatan. Secara bahasa Hijrah artinya meninggalkan,
berpisah, atau menjauhi sesuatu, seperti firman Allah tentang Nabi Ibrahim :
Maka Lut membenarkan (kenabian)nya. Dan
berkatalah Ibrahim, "Sesungguhnya aku akan berpindah ke (tempat yang diperintahkan) Tuhanku
(kepadaku); sesungguhnya Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”
(Q.S. Al Ankabut : 26)
Dari firman Allah ta’ala tersebut kita dapat
mengetahui bahwa Hijrah memiliki arti berpindah menuju tempat yang
diperintahkan oleh Allah, yaitu tempat dimana kita bisa mendapatkan amalan
kebaikan sebagai tiket menuju surga-Nya.
Berbicara mengenai Hijrah, dewasa
ini ada orang dengan mudah ketika sudah berkomitmen untuk Hijrah maka mereka
senantiasa konsisten, akan tetapi tidak menafikan juga bagi sebagian orang lain
yang sudah mengerti mengapa mereka harus berhijrah terkadang tidak konsisten
dalam merubah perilakunya atau bahkan mengingkari komitmen awal untuk berhijrah
dan kembali kepada perilaku awal.
Dari adanya persoalan tersebut, maka penulis mencoba
untuk mengajak pembaca setelah memutuskan untuk berhijrah maka dapat menjadi pribadi
yang Hamasah (semangat memperbaiki
diri), tetap Istiqomah dalam
berhijrah dan bahkan akan menjadi
seorang yang Qudwah (mereka yang
istiqomah dan mampu memberikan banyak manfaat kepada Umat, sehingga mereka
dijadikan contoh kebaikan).
Perlu ditekankan, pada artikel ini penulis tidak
hendak mengajak pembaca untuk memulai komitmen agar berrhijrah, akan tetapi
lebih ke arah menjaga bagaimana komitmen awal berhijrah bisa tetap konsisten
kita pegang. Sehingga pembaca diasumsikan sudah sadar dan memiliki komitmen
untuk berrhijrah.
Beberapa hal yang dapat kita lakukan agar bisa
mencapai tujuan dari Hijrah yang kita tetapkan diantaranya adalah :
1. Menutup stimulus yang tidak sesuai atau stimulus penghambat
hijrah
Sekuat apapun
komitmen, jika setiap hari dan setiap waktu berinteraksi atau dihadapkan dengan
hal hal yang membuat kembali kepada perilaku lama, maka komitmen entah sadar
ataukah tidak akan lemah dan bahkan hilang. Layaknya air yang menetesi sebuah
batu karang, meskipun hal itu kecil dan terlihat lemah menetesi batu karang,
lambat laun batu karang tersebut akan berlubang dan rusak. Sebagai contoh hal kecil yang mungkin
kerapkali kita abaikan diantaranya adalah tentang informasi yang diakses di
berbagai situs media sosial, hampir tidak mungkin remaja atau orang sekarang
tidak memiliki gadget, dengan gadget bisa memasang berbagai aplikasi salah
satunya adalah sosial media, di sosial media tersebut tentu berbagai informasi
sangat beragam dan bertebaran, mulai dari informasi berita, postingan tentang
makanan atau hal-hal lain yang tidak sesuai dengan norma kesusilaan dan
menawarkan gaya hidup yang hedonis. Dari adanya berbagai realitas tersebut maka
hendaknya bijak dalam menggunakan media sosial, bukan berarti tidak menggunakan
media sosial. Langkah yang bisa dilakukan untuk menutup stimulus yang tidak
sesuai misalnya dengan tidak mengikuti akun yang tidak sesuai dan memilah
informasi yang sesuai dengan arah perubahan yang hendak dicapai.
2. Membuat perencanaan
Perencanaan
berasal dari kata Rencana yang berarti cerita, rancangan, konsep. Sedangkan
untuk pengertian dari perencanaan adalah proses, cara, perbuatan merencakan.
Sehingga dapat diambil substansinya bahwa perencanaan adalah proses untuk
membuat sebuah konsep atau rancangan. Sebagaimana kita ketahui bahwa fungsi
dari perencanaan diantaranya adalah untuk membuat cara agar apa yang akan kita
lakukan bisa mencapai apa yang kita tuju atau tetap on the track,
sebagai pengingat tentang apa yang harus dilakukan agar apapun yang dilakukan
dapat terarah. Fungsi yang pertama adalah untuk membuat cara agar tujuan
tercapai, karena dengan menggunakan perencanaan maka kita akan berpikir dan
menimbang perilaku mana yang sesuai dan mengarahkan diri kita untuk mengubah
perilaku ke arah yang lebih baik atau sebagai reminder bagi kita bahwa apa yang
kita lakukan harus searah dengan komitmen awal. Begitupun sebaliknya jika tidak
membuat perencanaan maka kita tidak dapat mengukur apakah aktivitas yang kita
lakukan benar benar mengarah kepada jalan yang akan kita tuju ataukah justru
menyimpang dan menjauhkan dari orientasi awal. Fungsi yang kedua sebagai
pengingat atau reminder. “al insanu mahalul khoto’ wa nisyan” yang artinya
manusia adalah tempatnya salah dan pelupa. Seolah sudah menjadi fitrah bagi
manusia untuk lupa, memang banyak faktor mengapa mengapa bisa lupa, bisa karena
tidak adanya bekasan sehingga dianggap seperti angin lalu saja atau bisa jadi
karena banyaknya kesibukan sehingga membuat memori tertumpuk-tumpuk dan
komitmen yang telah kita buat tertelan atas tumpukan kesibukan. Hal tersebut
alamiah, bahkan yang tidak direncanakan secara otomatis akan lupa. Maka untuk
pemecahannya adalah negasi dari hal-hal yang sering membuat lupa, yaitu salah
satunya adalah dengan membuat perencanaan baik itu perencanaan jangka pendek (harian,
mingguan atau bulanan) atau bahkan jangka panjang (tahunan atau periodik).
Dengan begitu maka akan senantiasa ingat dan mengukur seberapa jauh capaian dengan target awal, dapat mengukur
apakah stagnan, memiliki progress atau justru menyimpang jauh.
3. Lingkungan yang mendukung
Hijrah itu
berat, maka butuh suatu hal yang dapat meringankan hal berat tersebut. Perlu
disadari bahwa merubah perilaku sulit dilakukan jika sendiri dan cenderung akan
lebih lama. Berdasarkan teori Behaviour
(dalam Boeree, 2009) yang menyatakan bahwa perilaku menyimpang itu dapat
dikatakan sebagai behaviour disorder yang artinya perilaku menyimpang itu
terbentuk karena adanya stimulus negatif yang mempengaruhi individu sehingga
menimbulkan suatu respon dalam dirinya untuk melakukan hal tersebut dan
mewujudkannya dalam bentuk perilaku yang menyimpang. Teori tersebut
menunjukkan bahwa perilaku seseorang (dalam hal ini perilaku yang menyimpang)
disebabkan karena adanya individu yang dipengaruhi oleh stimulus yang negatif,
sebagai contoh misalnya dalam sebuah organisasi baik organisasi sosial,
politik, bisnis ataupun keagamaan jika sering melihat orang yang selainnya
sering datang telat dalam sebuah kegiatan dan menjadi kebiasaan maka akan
ditiru oleh orang yang selainnya. Teori behaviour
disorder diatas tentu berlaku juga sebaliknya yaitu perilaku yang baik
terbentuk karena adanya stimulus positif yang mempengaruhi individu sehingga
menimbulkan respon dalam dirinya untuk melakukan hal yang baik. Seperti halnya
kata Opick (penyanyi) di dalam lagunya yang berjudul “Tombo Ati” bahwa
jikalau ingin menjadi orang yang shaleh maka berkumpullah dengan orang orang
yang shaleh. Hijrah atau berpindah tempat ke tempat yang lebih baik banyak
dikisahkan dari Para Nabi dan Rasul terdahulu, seperti Nabi Musa a.s yang
memutuskan untuk pergi dari kekangan raja Fir’aun karena beliau sadar jika
terus terusan berada ditempat yang dzalim tersebut akan membuat keimanan para
pengikutnya semakin memudar dengan segala cara kedzaliman yang dilakukan oleh
Raja Fir’aun. Pun sama halnya dengan Rasulullah yang akhirnya memutuskan untuk
Hijrah dari Mekkah ke Madinah karena beliau tahu jika umatnya berada dibawah
lingkungan orang orang kafir maka tinggal menunggu waktu saja Umat Islam akan
hilang karena adanya pengaruh yang besar dari ingkungan orang orang kafir. Sehingga
jika ingin menjaga komitmen maka hendaknya kita berkumpul dengan orang atau
lingkungan yang sesuai dengan arah komitmen yang pernah kita sepakati.
4. Terbuka
Terbuka yang
dimaksud disini adalah membuka diri terhadap saran ataupun teguran dari
lingkunangan yang telah kita pilih. Keputusan untuk masuk kedalam lingkungan
yang mengarahkan kita kepada orientasi yang lebih baik maka pada saat itu pula
kita sudah terikat kedalam lingkugan sosial tersebut, sehingga interaksi,
budaya dan sistem. Misalnya saja dalam ruang lingkup rumah, Tentunya perilaku
yang kita lakukan di lingkungan akan senatiasa dilihat dan dinilai. Akan menjadi
suatu kenikmatan berada dilingkungan yang baik, keberkahan tersebut dikarenakan
adanya pandangan, saran dan bahkan teguran bagi kita jika dianggap perilaku
yang kita lakukan tidak sesuai dengan yang seharusnya. Hendaknya saran dan
teguran tersebut kita terima dan resapi karena dengan keterbukaan atau menerima
adanya saran dan teguran akan membuat kita sadar bahwa apa yang dilakukan keliru
dan harus merubahnya.
5. Sabar
Berbagai usaha
telah kita lakukan mulai dari menutup stimulus kemaksiatan, berada di
lingkungan yang thoyibah, dan membuat perencanaan. Akan tetapi ada saja godaan
yang membuat goyah entah yang berasal dari internal ataupaun eksternal. Maka
dari itu perlu ada suatu penolong atau pertahanan terakhir agar kita tetap
sadar dan kuat menghadapinya, yaitu dengan sabar. Secara bahasa sabar berasal
dari kata arab shobaro – yashbiru yang berarti menahan, jika
dikontekskan maka arti menahan adalah menahan dari godaan-godaan yang membuat
kita terseret kepada jurang kemudhorotan, secara perilaku bukan berarti pasrah
atau pasif menerima segala sesuatu, akan tetapi aktiv menghalau bagaimana
caranya agar tetap konsisten dan istiqomah menjaga komitmen. Sabar memang
berat, maka dari itu Allah SWT menjanjikan pahala yang besar bagi orang-orang
yang mampu bersabar. Sebagaimana janji allah dalam surat an-nahl ayat 96 : dan,
sesungguhnya kami akan memberi balasan kepada orang orang yang sabar dengan
pahala yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan.
Sungguh, janji
Allah itu nyata bagimu dan patutlah kita bersyukur, Alhamdulillah.
Hikmah
Dari kelima hal
diatas, mudah-mudahan bisa tetap istiqomah berada dijalan kebaikan dan menjadi
orang-orang yang mendapatkan ridho Allah untuk bisa dipertemukan di Surga-Nya.
Karena setiap
dari kita adalah Penulis, penulis dari buku amal, entah baik ataupun buruk kita
sendiri yang menentukan –Ramadhan N.
Penulis : Hafidz
Ismawan

mantap.. Kalo lagi senggang buat nulis aj, daripada nggak produktif. Dan ingat, pepatah lama, Roma tidak dibangun dalam waktu satu hari. Begitu juga tulisan yang bagus.
BalasHapuskunjungi juga
www.godhongkopi.wordpress.com
instagram.com/godhongkopi
Siap bosqu. Dan kita memang bukan Bandung Bondowoso yang mampu buat seribu candi dalam semalam. Begitupun tulisan yang bagus.
HapusMantap kali bapak tulisannya berbobot banget nihh👏👏
BalasHapusHehee. Makasih teh udah mampir. Masih butuh perbaikan-perbaikan lagi 😊🙏
HapusSemoga ilmunya manfaat dunia akhirat yh a
BalasHapusMantap lurr👍
BalasHapus