Karma dan Pesan Moralnya
(pict : google)
Ada yang
belum apa itu karma ? Yup betul, salah satu buah yang bernama latin Phoenix
Dactylifera dan berasal dari tanaman Arecaceae dan tergolong dalam
genus Phoenix. Disunahkan untuk memakan buah ini selagi berbuka puasa
dengan tiga jari. Bukaan, bukan itu kawan. Dan juga karma yang dimaksud dalam
artikel ini juga bukan acara yang sepertinya Reality show dengan pengisi utama seorang
pria usia 30an dengan potongan rambut berponi khas Oppa Koreah, Roy Konveksi.
Bukan juga itu yaa karma yang dimaksud, hehee.
Karma yang
dimaksud adalah hukum sebab-akibat yang dilakukan oleh manusia. Berasal dari
bahasa sansekerta yang berarti perbuatan, kerja atau gerak. Istilah karma
kerap kali kita dengar dan seolah kata karma memiliki kekuatan magis
tersendiri yang membuat orang ketika mendengar harus berpikir ulang. Beberapa kata-kata
keramat karma yang kerap kali kita dengar baik yang sempat viral ditahun 90an
bahkan sampai sekarang ini diantaranya adalah jangan menghina orang lain nanti
kena karma, jangan mencuri nanti kena karmanya, jangan PHP terus nanti kena
karma atau bahkan jangan ganggu mahasiswa yang sedang skripsi nanti kena karma,
nah loh. Segelintir contoh kalimat tersebut akan membuat seseorang
menghentikan aktivitasnya untuk tidak melakukan hal-hal yang sekiranya akan
berbuah pahit.
Lalu sebenarnya
karma itu apa sih ? sebagaimana yang dimaksud diatas bahwa karma pada intinya
pengertiannya adalah hukum sebab-akibat (cause and effect). Jika dalam
pandangan Islam mengacu pada hukum sebab-akibat penulis merujuk pada salah ayat
Allah QS Ar-Rum 30:41 :
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِى النَّاسِ
لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِى عَمِلُوا۟ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
Artinya:
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan
manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat)
perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”
Ayat diatas
menjelaskan mengenai apa yang manusia perbuat akan kembali kepada manusia itu
sendiri, baik kemakmuran, kerusakan, kebaikan dan kejahatan adalah apa yang
manusia perbuat. Atau yang biasa kita kenal dengan Sunatullah.
Karma,
berdasarkan makna dari pendekatan pengertian dan juga ayat sudah nampak jelas
ada kelogisan bahwa apa yang manusia perbuat ada efeknya, kalau dalam fisika
dan ilmu sejenisnya kita kenal dengan aksi dan reaksi. Sebagai contoh
sederhana adanya banjir disebabkan dari beberapa hal diantaranya adalah karena
masyarakat yang membuang sampah disungai, sampah menumpuk, menjadi penyumbat
aliran air dan jadilah banjir ketika musim hujan. Giliran banjir yang disalahin
pemerintah, bukan begitu ? hehee
Sebenarnya,
kalau boleh penulis berpendapat bahwa karma yang selama ini kita dengar adalah
sebagai pesan moral terutama bagi suku Jawa yang kental akan budayanya yang
banyak mengemas pesan moral dengan cara unik tertentu.
Lalu apakah
kata karma kita hilangkan ? enggak harus. Justru dengan adanya karma
tersebut membuat kita selalu ingat bahwa segala sesuatu yang kita perbuat akan
ada dampaknya, baik cepat ataupun lambat, besar atau kecil, banyak atau sedikit.
Tinggal bagaimana memberikan pendasaran yang logis mengapa jangan melakukan hal
itu. Misalnya katakanlah melakukan sosialisasi pada masyarakat agar tidak
membuang sampah karena berdampak banjir, tidak menghina anak yang memiliki
kekurangan karena berdampak bagi perkembangan mental dan kepribadian atau
mungkin bagi mahasiswa ada adek tingkat yang dengan polosnya mengajak untuk
bercanda di tengah padatnya jadwal mahasiswa semester akhir, maka tinggal
bilang dengan baik-baik “jangan sekarang yaa bercandanya nanti aja kalau sudah
kelar” dengan begitu setidaknya ada penjelasan logis yang dapat diterima.
Mungkin itu
saja tulisan ringan dari saya, seringan berat badan wanita sholihah. Semoga dapat
nemenin malem minggu kalian, daripada ngestalk yang belum pasti yekaan ? hehe
Saran kritik
silahkan, tapi jangan pedes-pedes, nanti kena karma nya looh. Hehee ^^

Komentar
Posting Komentar