Jangan Pernah Berhenti Berbuat Kebaikan
(pict : google)
Kumandang adzan maghrib mulai
terdengar sayup-sayup dari kejauhan. Kala itu hujan gerimis membasahi kota
pahlawan. Sorot lampu jalan mulai menampakan dirinya yang membuat kenangan
genangan air semakin jelas terlihat. Rintik hujan yang semakin deras tidak
mengurungkan niat untuk pulang. Ku kayuh sepeda warna putih kusam layaknya
warna kertas buram dengan cepat melewati celah – celah tetesan air hujan yang turun,
namun pada akhirnya menyerah melewati celah – celah kuda besi yang menguasai
jalanan Surabaya. Macet, sudah menjadi hal yang pasti dan tidak bisa dihindari.
Mengeluh akan macet adalah keputusan yang keliru, karena hari ini dan esok akan
tetap seperti itu. Alihkan energi yang ada untuk hal lebih produktif daripada
mengutuk macetnya jalanan, berdoa misalnya, tidak ada salahnya bukan ? karena
tidak ada yang bisa dilakukan ketika terjebak macet. Dan benar, doa yang
kupanjatkan seolah terjawab. Tak disangka jalan kecil atau bisa dibilang jalan
alternatif disebelah kanan memunculkan niatku untuk melaluinya. Seperti seorang
anak kecil umur 3 tahun yang baru mengenal dunia, eksplorasi pun dimulai. Hanya
bermodalkan nekat dan sepeda pinjaman teman kulalui jalanan setapak itu dengan
penasaran. Semangat, karena sudah waktunya mengisi perut yang sedari tadi sudah
menuntut haknya.
Begitu asing, memang ini pertama
kalinya melalui rute baru yang dikenal. Melewati jalanan kampus teknik ternama
Surabaya, melihat beberapa mahasiswa berlarian kesana kemari dan tertawa kecil
sambil mengangkat tas, yang digunakannya sebagai payung untuk menghindari hujan
yang turun semakin deras, begitupun denganku. Meski sepanjang jalan tertanam
pohon yang rimbun ditepiannya, akan tetapi tidak mampu menghindari kenyataan
untuk banjir menghampiri. Rupanya hujan yang berlangsung sedari siang
membuatnya menyerah dan menanggung banyaknya air. Banjir, seolah menjadi teman
akrab bagi si macet, kedua sejoli yang sulit dipisahkan ini adalah suatu kenyataan
yang terus berada di berbagai kota besar.
Beranjak menuju jalanan yang
lebih lebar, sehingga mobil pun ikut serta melalui jalanan tersebut. Entahlah,
itu dikatakan mobil atau bukan, bagiku lebih mirip seperti Amphibi kendaraan
militer yang mampu beroperasi dijalan maupun di air, karena tingginya air setinggi
separuh ban mobil, membuatnya terlihat demikian. Aku sebagai salah satu orang
yang termarginalkan atau terpinggirkan (terpinggirkan ke tepi jalan)
merasakan firasat yang tidak enak. Pikiran suudzon pun muncul, bagaimana tidak,
dengan cepatnya laju kendaraan ditambah genangan air yang tinggi akan membuat
sebuah guyuran air ke sisi – sisi jalan. Dan tahu kan apa yang akan terjadi ?
Basah seluruh tubuh akan menjadi konsekuensi logis dari keadaan tersebut,
begitulah pikiran suudzonku tentang hal yang akan terjadi. Dan benar, sebuah
kendaraan berwarna putih meluai melaju tepat dibelakangku, dan reflek menepi
adalah pilihan yang tepat menandakan aku mengijinkan dia mendahuluiku. Jikapun harus
terguyur ikhlaskan sajalah, toh sedari tadi sudah agak sedikir basah karena
hujan. Tetap mengayuh dan dia tetap berada dibelakangku. Aneh, kenapa tidak
lewat sekalian ? bukankah laju sepeda ini lebih lambat darinya ? dalam hitungan
detik bisa saja dia mendahului.
Tetap berada dibelakang sepeda
tua adalah keputusannya. Namun biarlah, walau sebenarnya tidak nyaman jika
harus dikawal. Beranjak ke jalanan yang lebih tinggi, rupanya pada jalan ini si
banjir tidak sanggup menjangkaunya. Suatu kebahagiaan kecil bisa melewati
tumpukan paving yang kering. Begitupun dengannya, yang sedari tadi
berada dibelakang dengan singkat mendahului tanpa lupa membunyikan klakson
tanda perpisahan (begitu aku menyebutnya).
Hawa dingin mulai menerpa,
meskipun di kota ini terkenal panasnya (selain penyetan dan warkopnya) akan
tetapi realitas menunjukkan pada hari itu memang suasana terasa dingin. Masih melewati
areal kampus teknik ternama Surabaya, hawa dingin dan rintik hujan yang belum
menyerah untuk berhenti membuat diriku berpikir mengapa kendaraan tadi memilih
berada dibelakangku ketika dijalan yang penuh air dan mendahului ketika berada
dijalan yang sudah kering ? Astaghfirullahal adzim, kenapa baru
terpikir. Dia memilih untuk terus berada dibelakang karena tidak ingin membuat
diriku menjadi basah kuyup karena guyuran air yang berasal dari kendaraannya. Tidak
hanya itu, bahkan dia memikirkan untuk menghalau kendaraan lain yang berada
dibelakangnya untuk tidak mendahului karena dia tahu mereka akan turut membuat
ombak besar ke arahku jika dia mengijinkannya. Mungkin itu yang aku sebut dia
memiliki rasa kepedulian. Tidak memandang siapa diriku dan berada ditingkat
ekonomi apa, hanya melakukan hal yang seharusnya. Tidak ingin melihat orang
lain berada dikondisi yang lebih buruk. Ditengah masyarakat industri dan
modernitas, dengan karakter individual yang tinggi, jarang ditemui orang
demikian.
Dari sedikit cerita usang, mengambil pelajaran yang berharga bukanlah suatu tindakan plagiat. Justru
suatu keharusan, hal yang bisa saya dapat yaitu jangan pernah berhenti berbuat
baik. Karena dengan berbuat baik maka akan membuat dunia jauh lebih baik. Akhirul
kata, berbuat baik kepada orang yang seharusnya. Berbuat baiklah tanpa pamrih,
karena Allah SWT mencintai orang – orang yang berbuat kebaikan. Sebagaimana Allah
mengatakan dalam firmannya :
“Sungguh,
Allah Mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan"
(Al-Baqarah
: 195)
Penulis : Hafidz Ismawan

keren
BalasHapusTerima Kasih. Semoga bermanfaat 😊👍
Hapus